Yang Terbaru

INFOGRAFIS WLINGIWOOD



Baca

KOORDINATOR UMUM WLINGIWOOD 2019 - 2023


Putera Iga Arrahma bergabung dengan Wlingiwood sejak 2013 setelah mengikuti lomba film yang didelegasikan oleh SMAnya. Ia juga ikut produksi-produksi yang diselenggarakan Wlingiwood pada saat itu. Masuk kuliah ia mulai menyukai film lebih jauh. Ia bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa perfilman di kampusnya. Aktivitas ini membuatnya terpilih menjadi Koordinator Umum Wlingiwood yang kedua dan mulai bertugas di Wlingiwood dari tahun 2019 hingga 2023. Selama masa koordinasinya, Wlingiwood telah mendistribusikan film-film karya anggotanya yang masuk ke beberapa festival film nasional. Kontribusi terbesarnya adalah mengenai wawasan distribusi film pendek. 

Terimakasih, Mas Tera.


Yang dipegang itu adalah coretan sejarah Wlingiwood.

Putera Iga Arrahma bergabung dengan Wlingiwood sejak 2013 setelah mengikuti lomba film yang didelegasikan oleh SMAnya. Ia juga ikut produksi-produksi yang diselenggarakan Wlingiwood pada saat itu. Masuk kuliah ia mulai menyukai film lebih jauh. Ia bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa perfilman di kampusnya. Aktivitas ini membuatnya terpilih menjadi Koordinator Umum Wlingiwood yang kedua dan mulai bertugas di Wlingiwood dari tahun 2019 hingga 2023. Selama masa koordinasinya, Wlingiwood telah mendistribusikan film-film karya anggotanya yang masuk ke beberapa festival film nasional. Kontribusi terbesarnya adalah mengenai wawasan distribusi film pendek. 

Terimakasih, Mas Tera.


Yang dipegang itu adalah coretan sejarah Wlingiwood.
Baca

DOA JOMBLO, FIRST WLINGIWOOD FILM FESTIVAL dan HARI FILM NASIONAL

Hari Film Nasional akan dirayakan pada tanggal 30, tapi kami mendahului merayakannya pada 25 Maret kemarin. Tanggal itu sengaja kami pilih karena memang pada tanggal itu tim kami kebanyakan available. Anggota Wlingiwood saat ini dominan anak-anak kuliahan yang hanya available saat weekend. Maka jauh-jauh hari kami pun memutuskan 25 Maret adalah waktu yang realistis untuk premiere SANDERA 2, film teranyar kami. Sekaligus kami mau mengambil momentum bulan film nasional.

Lalu muncul ide di kepala…kenapa nggak sekalian bikin festival film untuk pertamakalinya di kota ini?

Saya dan rekan-rekan mulai bikin kegiatan film di Wlingi sejak 2009. Wow… tak terasa sudah begitu lama. 2010, untuk pertamakalinya tercetus ide bikin festival. Saat itu saya belum tahu caranya. 2015, saat karya kami berhasil dapat pengakuan, mentor-mentor kami menyarankan untuk mulai bikin festival. Saat itu pun saya masih belum tahu caranya. Setelah melewati masa-masa putus asa dan depresi, 2017 memberi angin baru buat saya pribadi. Saya begitu bersemangat lagi berkarya. Rasanya kayak kembali ke tahun 2009. Maka bersama anak-anak yang 90 persen masih baru di filmmaking kami menghasilkan SANDERA 2…not too good as you wish but still better J

Lalu tersepakatilah…kami mo muter SANDERA 2 nggak Cuma di private screening. Udah biasa n gampanglah kalo cuma muter di ruang kelas. Kami mau bawa Wlingiwood goes to public. Mosok film-film kami diputer mau di kota lain di kampungnya sendiri malah enggak?

Layarnya swadaya

Dan ini muter dalam rangka festival, nggak cuma layar tancepan doang. Ada konsep yang terarah hingga ke depannya. 2014 silam saat rampung SANDERA yang pertama, kami juga muter untuk publik, tapi konsepnya belumlah festival. Itu juga terlaksana cuman sekali tanpa konsep macem-macem. Festival yang kami impikan adalah acara yang menampilkan karya-karya inspiratif dan beragam genre. Kami ingin, nanti Wlingiwood Film Festival menjadi acara yang banyak ditonton masyarakat sekitar. Tentu kami juga akan terus menjaga kualitas produksi karya-karya kami. Nanti akan ada kurasi untuk film-film yang akan tayang.

2 hari menjelang acara, cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda tak bersahabat. Namun saat itu saya berkeyakinan gini…”Ah biar lah siangnya hujan deras, biar malamnya cerah..”

Soalnya akhir-akhir ini pola turunnya hujan emang gitu…siang hujan, malam cerah. Sembari ber-marioteguh (baca: optimis) saya sebar undangan ke pihak-pihak yang utama di level birokrasi dan layanan publik: Pak Camat plus Muspika, Pak Lurah, Kapolsek, Danramil dll. Poster ditempel di beberapa titik, flyer disebar. Banner gede kita pasang di pintu masuk area.

Anak-anak ludruk stunt (stage combat show) terus berlatih banting-bantingan dari ubin ke aspal. Atraksi ini akan disajikan sebagai pembuka acara. Pada saat yang sama, tim logistik dikoordinasi agar mencari bahan pangan “gratis”. Anak-anak mencari sesuatu dari kebun, toko dan dapurnya untuk disumbangkan sebagai bahan konsumsi pas acara. Yang masak ibunya sutradara ludruk stunt kita, Kang Mbeno. Hidangan untuk hari itu ada: Telo godhog, gedhang ambon mateng, kripik tales, sosis goreng, sego pecel, jangan tewel dll. Ngombene? Yo Aqua kerdusan…Semua dilakukan secara swadaya. NO SPONSORSHIP (nggak jadi, nggak prospek n waktunya mepet). Layar beli sendiri (ngutang), cuma proyektor yang minjem sekolahan. Bikin festival modal dengkul tenan. Tapi jangan remehkan dengkulnya anak Wlingiwood. Sekali nekad, geraknya bisa lebih cepat daripada otak.

Lha ndilalah pas hari H-nya kebalik. Wlingiwood Film Festival sukses menjadi pesta air hehehe…

Main air
Sound system dan panggung sumbangan dari Pak Camat akhirnya nganggur. Sama anak-anak ludruk stunt malah buat main luncur-luncuran. Jam 7 malem itu…dingin…basah. Sebagai festival director saya putuskan acara pindah ke aula. Layarnya pake banner bekas seminar dibalik. Tentu aja jauh lebih kecil dari layar gede di luar sana. Masyarakat luar yang datang cuma 3 orang…yang lain warga Wlingiwood semua hahahaha..

Dari sekian undangan yang beneran hadir cuma Pak Sekretaris Kecamatan dan Ibu wakil Dinas Pariwisata dan Pemuda Kabupaten (lupa saya singkatannya…instansinya namanya panjang n ribet). Ibu dinas pariwisata cuma “say hi” sedang Pak Sekcam nonton sampai akhir, tapi gak mau ikut makan bareng. Entahlah apa nanti yang ada di pikirannya nonton SANDERA 2 yang “jlab-jleb” gitu.

SANDERA 2 KARMA, film terbaru dari Wlingiwood

Tutup festival

Soal makanan…wow…melimpah ruah. Makanan itu mustinya buat minimal 2 kali makan. Karena teman-teman kerja sejak siang. Entah karena hujan bikin kenyang atau saking sibuknya kita, makanan itu sampe turah-turah…bahkan jangan tewel maknyus yang ada dipanci lupa dibuka karena kita asyik sama pecel bikinan Ibunya Kang Mbeno yang maknyus itu. Saya yang biasanya nambah juga gak kuat.

Entahlah musti dibilang gimana Wlingiwood Film Festival yang perdana ini…ndilalah alhamdulillah hujan duerassss :D sungguh doa jomblo yang ijabah.

Ora popo…hujan juga anugrah alam yang musti disyukuri. Senang lihat anak-anak ngumpul. Senang lihat semua menikmati filmnya. (kami muter 12 film, awalnya 11 tapi Mas Betet nambahin 1 lagi pas udah selesai programming).

Biarlah hujan juga menyapu semua kenangan pahit dan hal-hal yang tak layak lagi ditempatkan di labirin batin :D

Saya merasa bahagia. Bahagia gitu saja…

SELAMAT HARI FILM NASIONAL.

G. Ekalaya
(Festival Director/Koordinator Umum Komunitas Wlingiwood Filmmakers)

Hari Film Nasional akan dirayakan pada tanggal 30, tapi kami mendahului merayakannya pada 25 Maret kemarin. Tanggal itu sengaja kami pilih karena memang pada tanggal itu tim kami kebanyakan available. Anggota Wlingiwood saat ini dominan anak-anak kuliahan yang hanya available saat weekend. Maka jauh-jauh hari kami pun memutuskan 25 Maret adalah waktu yang realistis untuk premiere SANDERA 2, film teranyar kami. Sekaligus kami mau mengambil momentum bulan film nasional.

Lalu muncul ide di kepala…kenapa nggak sekalian bikin festival film untuk pertamakalinya di kota ini?

Saya dan rekan-rekan mulai bikin kegiatan film di Wlingi sejak 2009. Wow… tak terasa sudah begitu lama. 2010, untuk pertamakalinya tercetus ide bikin festival. Saat itu saya belum tahu caranya. 2015, saat karya kami berhasil dapat pengakuan, mentor-mentor kami menyarankan untuk mulai bikin festival. Saat itu pun saya masih belum tahu caranya. Setelah melewati masa-masa putus asa dan depresi, 2017 memberi angin baru buat saya pribadi. Saya begitu bersemangat lagi berkarya. Rasanya kayak kembali ke tahun 2009. Maka bersama anak-anak yang 90 persen masih baru di filmmaking kami menghasilkan SANDERA 2…not too good as you wish but still better J

Lalu tersepakatilah…kami mo muter SANDERA 2 nggak Cuma di private screening. Udah biasa n gampanglah kalo cuma muter di ruang kelas. Kami mau bawa Wlingiwood goes to public. Mosok film-film kami diputer mau di kota lain di kampungnya sendiri malah enggak?

Layarnya swadaya

Dan ini muter dalam rangka festival, nggak cuma layar tancepan doang. Ada konsep yang terarah hingga ke depannya. 2014 silam saat rampung SANDERA yang pertama, kami juga muter untuk publik, tapi konsepnya belumlah festival. Itu juga terlaksana cuman sekali tanpa konsep macem-macem. Festival yang kami impikan adalah acara yang menampilkan karya-karya inspiratif dan beragam genre. Kami ingin, nanti Wlingiwood Film Festival menjadi acara yang banyak ditonton masyarakat sekitar. Tentu kami juga akan terus menjaga kualitas produksi karya-karya kami. Nanti akan ada kurasi untuk film-film yang akan tayang.

2 hari menjelang acara, cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda tak bersahabat. Namun saat itu saya berkeyakinan gini…”Ah biar lah siangnya hujan deras, biar malamnya cerah..”

Soalnya akhir-akhir ini pola turunnya hujan emang gitu…siang hujan, malam cerah. Sembari ber-marioteguh (baca: optimis) saya sebar undangan ke pihak-pihak yang utama di level birokrasi dan layanan publik: Pak Camat plus Muspika, Pak Lurah, Kapolsek, Danramil dll. Poster ditempel di beberapa titik, flyer disebar. Banner gede kita pasang di pintu masuk area.

Anak-anak ludruk stunt (stage combat show) terus berlatih banting-bantingan dari ubin ke aspal. Atraksi ini akan disajikan sebagai pembuka acara. Pada saat yang sama, tim logistik dikoordinasi agar mencari bahan pangan “gratis”. Anak-anak mencari sesuatu dari kebun, toko dan dapurnya untuk disumbangkan sebagai bahan konsumsi pas acara. Yang masak ibunya sutradara ludruk stunt kita, Kang Mbeno. Hidangan untuk hari itu ada: Telo godhog, gedhang ambon mateng, kripik tales, sosis goreng, sego pecel, jangan tewel dll. Ngombene? Yo Aqua kerdusan…Semua dilakukan secara swadaya. NO SPONSORSHIP (nggak jadi, nggak prospek n waktunya mepet). Layar beli sendiri (ngutang), cuma proyektor yang minjem sekolahan. Bikin festival modal dengkul tenan. Tapi jangan remehkan dengkulnya anak Wlingiwood. Sekali nekad, geraknya bisa lebih cepat daripada otak.

Lha ndilalah pas hari H-nya kebalik. Wlingiwood Film Festival sukses menjadi pesta air hehehe…

Main air
Sound system dan panggung sumbangan dari Pak Camat akhirnya nganggur. Sama anak-anak ludruk stunt malah buat main luncur-luncuran. Jam 7 malem itu…dingin…basah. Sebagai festival director saya putuskan acara pindah ke aula. Layarnya pake banner bekas seminar dibalik. Tentu aja jauh lebih kecil dari layar gede di luar sana. Masyarakat luar yang datang cuma 3 orang…yang lain warga Wlingiwood semua hahahaha..

Dari sekian undangan yang beneran hadir cuma Pak Sekretaris Kecamatan dan Ibu wakil Dinas Pariwisata dan Pemuda Kabupaten (lupa saya singkatannya…instansinya namanya panjang n ribet). Ibu dinas pariwisata cuma “say hi” sedang Pak Sekcam nonton sampai akhir, tapi gak mau ikut makan bareng. Entahlah apa nanti yang ada di pikirannya nonton SANDERA 2 yang “jlab-jleb” gitu.

SANDERA 2 KARMA, film terbaru dari Wlingiwood

Tutup festival

Soal makanan…wow…melimpah ruah. Makanan itu mustinya buat minimal 2 kali makan. Karena teman-teman kerja sejak siang. Entah karena hujan bikin kenyang atau saking sibuknya kita, makanan itu sampe turah-turah…bahkan jangan tewel maknyus yang ada dipanci lupa dibuka karena kita asyik sama pecel bikinan Ibunya Kang Mbeno yang maknyus itu. Saya yang biasanya nambah juga gak kuat.

Entahlah musti dibilang gimana Wlingiwood Film Festival yang perdana ini…ndilalah alhamdulillah hujan duerassss :D sungguh doa jomblo yang ijabah.

Ora popo…hujan juga anugrah alam yang musti disyukuri. Senang lihat anak-anak ngumpul. Senang lihat semua menikmati filmnya. (kami muter 12 film, awalnya 11 tapi Mas Betet nambahin 1 lagi pas udah selesai programming).

Biarlah hujan juga menyapu semua kenangan pahit dan hal-hal yang tak layak lagi ditempatkan di labirin batin :D

Saya merasa bahagia. Bahagia gitu saja…

SELAMAT HARI FILM NASIONAL.

G. Ekalaya
(Festival Director/Koordinator Umum Komunitas Wlingiwood Filmmakers)

Baca

Laporan Sekilas Pandang FLS2N Cabang Film Pendek Tingkat Propinsi Jawa Timur di Batu 28 - 31 Mei 2016

Ini adalah tahun ke-3 FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) cabang film pendek diselenggarakan. Lagi-lagi saya (wong Wlingiwood Filmmakers) bertugas mendampingi teman-teman wakil Kab. Blitar. Kali ini acaranya digelar pada 28 - 31 Mei 2016 di Hotel Batu Suki Jl. Bukit Berbunga No.20 - 24 Batu, Jawa Timur.

Tema yang diangkat adalah "Sekolahku Inspirasiku". Peserta yang tiap tim dibatasi hanya 3 butir musti bikin film durasi maksimal 5 menit dan dieksekusi kurang lebih sehari semalam. Sakti tenan....

Jurinya ada Pak Kris (sutradara), Pak Imum (Arek TV) sama Bu Ainun (PARFI Jatim). Maaf nama-nama beliau saya belum tahu nulis ejaannya yang benar. Lupa konfirmasi karena makanan di hotel terlalu enak hingga bikin lupa hehe..

(dari kiri ke kanan) Daffa, Mukti dan Irwin dari MOVO Film Club SMAN 1 Talun
sebagai wakil kabupaten Blitar untuk FLS2N Film Pendek 2016

Well....Pencapaian tim MOVO FILM SMAN 1 Talun kali ini berada di urutan buntut yakni sebagai peringkat harapan 2 hehe...Maafkanlah...syukurilah hehehe. Well masuk 5 besar tapi tentunya kami gak boleh langsung puas. Ada sekitar 30an tim yang ikut kalo nggak salah.

Berikut daftar pemenang, nilai yang diperoleh dan asal daerah:

Para pemenang

Pensil - 720 - (Surabaya) Juara 1
Menggapai Asa - 685 - (Malang) Juara 2
Pelajaran Hidup - 660 - (Tulungagung) Juara 3
Menggapai Cakrawala - 625 - (Madiun) Harapan 1
Ketika Yang Biasa Bisa - 590 - (Kab. Blitar) Harapan 2

Well...hmmm rupanya kita terlalu memandang remeh kompetisi kali ini. Terbukti bahwa ternyata karya-karya rekan-rekan daerah lain sudah nggak lagi main-main. Sinematografinya serius. Apalagi untuk ukuran film yang dibikin dengan hanya 3 orang dalam sehari.

Bersama Pak Imum, salah satu juri

Agak guyon saya ngomong, "Jangan-jangan ada yang bawa drone..." eh beneran ada yang pake drone :D Karya pemenang di atas sungguh tak mengecewakan. Mungkin memang belum ada greget atau terobosan ide yang signifikan tapi kelak pastinya bakal ada. Kecuali karya siswa yang saya dampingi, hampir semuanya optimal menggunakan alat. Gambar sudah lebih tertata, editing sudah mulai rapi dll. Kalau karya siswa saya saat ini masih cuma optimal di storytelling....sinematografi hmmmm...gitu dehhh. Ya udah taun depan sinematografi musti digregetin yo cahhhh

Kerja

Editing

Storyboarding

Writing script

Lomba film pendek FLS2N ini menurut saya emang memunculkan "teknik filmmaking" tersendiri. Bayangin 3 orang bikin film sehari. Semua dirangkap-rangkap. Ya kita taulah kenapa cuma boleh 3 peserta. Duitnya, gan hehehe...karena ntar yang dibiayai ya cuma 3 orang. Tapi ini kemudian menjadi suatu teknik filmmaking yang unik dan musti efektif. Di Wlingiwood sering kami bekerja dengan kru minim kayak gini.

Kota Batu dari aula lantai atas Hotel Batu Suki Jl. Bukit Berbunga 20 - 24

Sepulang dari Batu (selain membawa demam flu) kami juga membawa setumpuk PR...belajar dan berlatih lagi. Selamat buat para pemenang....tetap belajar, berlatih setelah itu menyerahlah dan berhenti berjuang.

Gimana dengan propinsi lain? Mungkin ada teman-teman yang bisa review?

-Gugun Ekalaya-
(sebagai pelatih dan pendamping tak resmi)


Ini adalah tahun ke-3 FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) cabang film pendek diselenggarakan. Lagi-lagi saya (wong Wlingiwood Filmmakers) bertugas mendampingi teman-teman wakil Kab. Blitar. Kali ini acaranya digelar pada 28 - 31 Mei 2016 di Hotel Batu Suki Jl. Bukit Berbunga No.20 - 24 Batu, Jawa Timur.

Tema yang diangkat adalah "Sekolahku Inspirasiku". Peserta yang tiap tim dibatasi hanya 3 butir musti bikin film durasi maksimal 5 menit dan dieksekusi kurang lebih sehari semalam. Sakti tenan....

Jurinya ada Pak Kris (sutradara), Pak Imum (Arek TV) sama Bu Ainun (PARFI Jatim). Maaf nama-nama beliau saya belum tahu nulis ejaannya yang benar. Lupa konfirmasi karena makanan di hotel terlalu enak hingga bikin lupa hehe..

(dari kiri ke kanan) Daffa, Mukti dan Irwin dari MOVO Film Club SMAN 1 Talun
sebagai wakil kabupaten Blitar untuk FLS2N Film Pendek 2016

Well....Pencapaian tim MOVO FILM SMAN 1 Talun kali ini berada di urutan buntut yakni sebagai peringkat harapan 2 hehe...Maafkanlah...syukurilah hehehe. Well masuk 5 besar tapi tentunya kami gak boleh langsung puas. Ada sekitar 30an tim yang ikut kalo nggak salah.

Berikut daftar pemenang, nilai yang diperoleh dan asal daerah:

Para pemenang

Pensil - 720 - (Surabaya) Juara 1
Menggapai Asa - 685 - (Malang) Juara 2
Pelajaran Hidup - 660 - (Tulungagung) Juara 3
Menggapai Cakrawala - 625 - (Madiun) Harapan 1
Ketika Yang Biasa Bisa - 590 - (Kab. Blitar) Harapan 2

Well...hmmm rupanya kita terlalu memandang remeh kompetisi kali ini. Terbukti bahwa ternyata karya-karya rekan-rekan daerah lain sudah nggak lagi main-main. Sinematografinya serius. Apalagi untuk ukuran film yang dibikin dengan hanya 3 orang dalam sehari.

Bersama Pak Imum, salah satu juri

Agak guyon saya ngomong, "Jangan-jangan ada yang bawa drone..." eh beneran ada yang pake drone :D Karya pemenang di atas sungguh tak mengecewakan. Mungkin memang belum ada greget atau terobosan ide yang signifikan tapi kelak pastinya bakal ada. Kecuali karya siswa yang saya dampingi, hampir semuanya optimal menggunakan alat. Gambar sudah lebih tertata, editing sudah mulai rapi dll. Kalau karya siswa saya saat ini masih cuma optimal di storytelling....sinematografi hmmmm...gitu dehhh. Ya udah taun depan sinematografi musti digregetin yo cahhhh

Kerja

Editing

Storyboarding

Writing script

Lomba film pendek FLS2N ini menurut saya emang memunculkan "teknik filmmaking" tersendiri. Bayangin 3 orang bikin film sehari. Semua dirangkap-rangkap. Ya kita taulah kenapa cuma boleh 3 peserta. Duitnya, gan hehehe...karena ntar yang dibiayai ya cuma 3 orang. Tapi ini kemudian menjadi suatu teknik filmmaking yang unik dan musti efektif. Di Wlingiwood sering kami bekerja dengan kru minim kayak gini.

Kota Batu dari aula lantai atas Hotel Batu Suki Jl. Bukit Berbunga 20 - 24

Sepulang dari Batu (selain membawa demam flu) kami juga membawa setumpuk PR...belajar dan berlatih lagi. Selamat buat para pemenang....tetap belajar, berlatih setelah itu menyerahlah dan berhenti berjuang.

Gimana dengan propinsi lain? Mungkin ada teman-teman yang bisa review?

-Gugun Ekalaya-
(sebagai pelatih dan pendamping tak resmi)


Baca

KOORDINATOR UMUM WLINGIWOOD 2014 - 2018


Gugun Arief membikin film sejak 2006 ketika ia masih tinggal di Jogjakarta. Setelah pulang kampung ke Blitar, pada tahun 2009 ia mulai membina remaja SMA untuk memproduksi film pendek. Tahun 2014 ia memproduksi film pendek yang ia anggap serius berjudul SANDERA. Dalam produksi ini ia berkolaborasi dengan rekan lama maupun baru yang rata-rata rata-rata adalah anggota komunitas di mana Gugun aktif. Film tersebut menandai lahirnya komunitas Wlingiwood Filmmakers. Gugun Arief sebagai inisiator, pengkonsep komunitas dan penggerak kemudian menjadi Koordinator Umum pertama dari tahun 2014 hingga 2018. Selain aktif di Wlingiwood, Gugun mengelola rumah produksinya sendiri yakni Javora Studio.









Gugun Arief membikin film sejak 2006 ketika ia masih tinggal di Jogjakarta. Setelah pulang kampung ke Blitar, pada tahun 2009 ia mulai membina remaja SMA untuk memproduksi film pendek. Tahun 2014 ia memproduksi film pendek yang ia anggap serius berjudul SANDERA. Dalam produksi ini ia berkolaborasi dengan rekan lama maupun baru yang rata-rata rata-rata adalah anggota komunitas di mana Gugun aktif. Film tersebut menandai lahirnya komunitas Wlingiwood Filmmakers. Gugun Arief sebagai inisiator, pengkonsep komunitas dan penggerak kemudian menjadi Koordinator Umum pertama dari tahun 2014 hingga 2018. Selain aktif di Wlingiwood, Gugun mengelola rumah produksinya sendiri yakni Javora Studio.








Baca

Hasil Lomba Film dalam rangka HARI KESEHATAN NASIONAL 2015

Oleh: NOVAN COKLAT (stunt coordinator di Wlingiwood)

Hoi, ini saya...COKLAT hehe...

Lomba film dalam rangka Hari Kesehatan Nasional bulan Oktober 2015 kemaren, kami WLINGIWOOD FILMMAKERS mendapatkan prestasi yang bisa dibilang lumayan memuaskan. Dapet Juara II, coyyyy..... film dengan judul SIXPACK lah yang telah mengantarkan kami di posisi ini. Sutradaranya, Cak Gugun lantas diundang ke Jakarta oleh Kemenkes buat mewaklili penerimaan penghargaan pada tanggal 27 November 2015. Wahhh saya gak diajakkkk...hiks hiks...

Gimana rasanya hasil kerja keras kami dapat penghargaan? Seneng sih iya, tapi kalau puas saya rasa belum. Setidaknya kami telah berusaha semampu kami.Walaupun belum mendapatkan hasil yang maksimal, tapi kami akan berusaha lebih keras dan lebih keras lagi untuk mencapai puncak. "Lama - lama berusaha, akhirnya membuahkan hasil juga. Kalau belum membuahkan hasil, berarti berusahanya kurang lama"

Keren kan pialanya?

Tim SIXPACK: Gugun Ekalaya gendong Haski (produser dan sutradara), saya (stunt coordinator), Mbeno Ajie (aktor utama) dan Andy Zunandi (stunt fighter)

Mas Betet Kunamsinam VS Cak Gugun. Asyik bisa ketemuan ama sesama warga Wlingiwood di Jakarta!
Oke, nantikan pecicilan kami di event selanjutnya :)
Oleh: NOVAN COKLAT (stunt coordinator di Wlingiwood)

Hoi, ini saya...COKLAT hehe...

Lomba film dalam rangka Hari Kesehatan Nasional bulan Oktober 2015 kemaren, kami WLINGIWOOD FILMMAKERS mendapatkan prestasi yang bisa dibilang lumayan memuaskan. Dapet Juara II, coyyyy..... film dengan judul SIXPACK lah yang telah mengantarkan kami di posisi ini. Sutradaranya, Cak Gugun lantas diundang ke Jakarta oleh Kemenkes buat mewaklili penerimaan penghargaan pada tanggal 27 November 2015. Wahhh saya gak diajakkkk...hiks hiks...

Gimana rasanya hasil kerja keras kami dapat penghargaan? Seneng sih iya, tapi kalau puas saya rasa belum. Setidaknya kami telah berusaha semampu kami.Walaupun belum mendapatkan hasil yang maksimal, tapi kami akan berusaha lebih keras dan lebih keras lagi untuk mencapai puncak. "Lama - lama berusaha, akhirnya membuahkan hasil juga. Kalau belum membuahkan hasil, berarti berusahanya kurang lama"

Keren kan pialanya?

Tim SIXPACK: Gugun Ekalaya gendong Haski (produser dan sutradara), saya (stunt coordinator), Mbeno Ajie (aktor utama) dan Andy Zunandi (stunt fighter)

Mas Betet Kunamsinam VS Cak Gugun. Asyik bisa ketemuan ama sesama warga Wlingiwood di Jakarta!
Oke, nantikan pecicilan kami di event selanjutnya :)
Baca

Perkenalan Ulang WLINGIWOOD FILMMAKERS

Rahayu,
Saya Gugun Ekalaya, koordinator Wlingiwood Filmmakers. Update lagi soal Wlingiwood Filmmakers.
Alhamdulillah satu tahun bergerak, Wlingiwood mulai dikenal beberapa filmmakers Indonesia. Terbuka kemungkinan kolaborasi dengan teman-teman daerah lain.
Gugun Ekalaya (koordinator), Betet Kunamsinam (Jakarta representative), Mbeno (Stunt Fighter Instructor), Novan Coklat (yang motret)
Sebenarnya Wlingiwood itu apaan sih? Gitu teman-teman dari daerah lain nanya langsung ke saya. Perkenalan saya mulai dengan bercerita soal Wlingi, dimana letak geografisnya, ada apa aja di sana.
Sebenarnya Wlingi tuh nggak asing-asing banget loh. Kalau pernah nonton film Punk In Love (sutradara Ody C. Harahap) ada lho satu scene yang diambil di Wlingi (gerbang diliwatin doang hehehe).
Di Wlingi ada taman kota yang luas dengan arena bermain, ada pasar tradisional yang besar, pasar hewan juga ada, ada bendungan obyek wisata, bangunan-bangunan tua ada beberapa namun menunggu kehancuran. Stasiun Wlingi juga jadi tempat berhenti kereta api kelas eksekutif. Setiap dari Blitar ke Malang ya pasti lewat Wlingi. Mungkin kalian jarang dengar nama Wlingi, namun setelah setahun ini paling tidak nanti kalian akan kebanjiran kreativitas dari sini. Yup! Wlingiwood Filmmakers akan membanjiri ruang apresiasi film di Indonesia.
Wlingiwood Filmmakers bukanlah production house, bukan sekolah film dalam arti lembaga. Kami cuma komunitas swadaya, tanpa bantuan dari institusi manapun (belum hehehe kami mah apa atuh...). Kami membuka diri terhadap kolaborasi satu visi, non politis dan apapun yang memajukan kreativitas anak muda. Gak ada syarat gabung yang muluk-muluk. Bikin film aja bareng kami, dan di poster ada tulisan Wlingiwood Filmmakers itu udah merupakan inisiasi jadi warga Wlingiwood Filmmakers.
Belakangan ini kami rajin ikut festival-festival, maka ke depan sudah selayaknya kami lebih mengorganisir. Dimulai dengan mengurus komunitas sini secara kecil-kecilan. Siapa mau produksi film dan bergabung untuk diarahkan ke festival-festival ntar kontak kami.
Saya Gugun akan bertindak selaku koordinator komunitas, lalu ada @Novan Coklat yang berlaku sebagai publisis, manajer penjadwalan dll. yah mumpung HP dia baru musti dimanfaatin. @Kakang Mbeno masih sebagai trainer stunt fighter di lapangan. Kalo yang di Jakarta mau kolaborasi ama tim Wlingiwood dan mau ngobrol intens bisa kontak Mas @Betet Kunamsinam, dia representasi Wlingiwood di Jakarta.
Kita simple kok, .....we make films....keep making films...that's what we do in Wlingiwood. Traadaaaagh! 

GUGUN EKALAYA
(Koordinator Wlingiwood Filmmakers)

Rahayu,
Saya Gugun Ekalaya, koordinator Wlingiwood Filmmakers. Update lagi soal Wlingiwood Filmmakers.
Alhamdulillah satu tahun bergerak, Wlingiwood mulai dikenal beberapa filmmakers Indonesia. Terbuka kemungkinan kolaborasi dengan teman-teman daerah lain.
Gugun Ekalaya (koordinator), Betet Kunamsinam (Jakarta representative), Mbeno (Stunt Fighter Instructor), Novan Coklat (yang motret)
Sebenarnya Wlingiwood itu apaan sih? Gitu teman-teman dari daerah lain nanya langsung ke saya. Perkenalan saya mulai dengan bercerita soal Wlingi, dimana letak geografisnya, ada apa aja di sana.
Sebenarnya Wlingi tuh nggak asing-asing banget loh. Kalau pernah nonton film Punk In Love (sutradara Ody C. Harahap) ada lho satu scene yang diambil di Wlingi (gerbang diliwatin doang hehehe).
Di Wlingi ada taman kota yang luas dengan arena bermain, ada pasar tradisional yang besar, pasar hewan juga ada, ada bendungan obyek wisata, bangunan-bangunan tua ada beberapa namun menunggu kehancuran. Stasiun Wlingi juga jadi tempat berhenti kereta api kelas eksekutif. Setiap dari Blitar ke Malang ya pasti lewat Wlingi. Mungkin kalian jarang dengar nama Wlingi, namun setelah setahun ini paling tidak nanti kalian akan kebanjiran kreativitas dari sini. Yup! Wlingiwood Filmmakers akan membanjiri ruang apresiasi film di Indonesia.
Wlingiwood Filmmakers bukanlah production house, bukan sekolah film dalam arti lembaga. Kami cuma komunitas swadaya, tanpa bantuan dari institusi manapun (belum hehehe kami mah apa atuh...). Kami membuka diri terhadap kolaborasi satu visi, non politis dan apapun yang memajukan kreativitas anak muda. Gak ada syarat gabung yang muluk-muluk. Bikin film aja bareng kami, dan di poster ada tulisan Wlingiwood Filmmakers itu udah merupakan inisiasi jadi warga Wlingiwood Filmmakers.
Belakangan ini kami rajin ikut festival-festival, maka ke depan sudah selayaknya kami lebih mengorganisir. Dimulai dengan mengurus komunitas sini secara kecil-kecilan. Siapa mau produksi film dan bergabung untuk diarahkan ke festival-festival ntar kontak kami.
Saya Gugun akan bertindak selaku koordinator komunitas, lalu ada @Novan Coklat yang berlaku sebagai publisis, manajer penjadwalan dll. yah mumpung HP dia baru musti dimanfaatin. @Kakang Mbeno masih sebagai trainer stunt fighter di lapangan. Kalo yang di Jakarta mau kolaborasi ama tim Wlingiwood dan mau ngobrol intens bisa kontak Mas @Betet Kunamsinam, dia representasi Wlingiwood di Jakarta.
Kita simple kok, .....we make films....keep making films...that's what we do in Wlingiwood. Traadaaaagh! 

GUGUN EKALAYA
(Koordinator Wlingiwood Filmmakers)

Baca

WLINGIWOOD FILMMAKERS GOES TO DEPOK

Alhamdulillah, salah satu film dari Wlingiwood berjudul "SIX PACK" (produksi Prodeopop Creative Services) masuk ke dalam finalis 10 besar lomba film pendek Hari Kesehatan Nasional 2015. Pada tanggal 17 Oktober 2015 kemarin Cak Gugun, Mbeno dan Coklat berangkat ke Kinasih Resort Depok untuk mengikuti workshop film 4 hari bersama Kalyana Shira Films. Depok tuh 1 - 2 jam lah dari Jakarta. Semua akomodasi, transport kereta api eksekutif, tiket pesawat dibayarin penuh lho. Pulang pun masih disangoni sama panitia. Kerennnnn :D

Press conference lah pura-puranya

Now Playing!

Selama 4 hari Wlingiwood Filmmakers berinteraksi bersama para pemateri dan teman-teman finalis lainnya. Tak ketinggalan pula kami ngobrol ama yang punya Kalyana Shira Films yaitu Teh Nia Dinata! bagi kalian yang belum tahu siapa Nia Dinata, googling deh! Dia sutradara perempuan yang sering membuat karya kontroversial. Ternyata Teh Nia Dinata nih orangnya ramah banget euyyy.... you know...kami sering dicuekin di kampung, tapi di sini kami diperlakukan sebagai "sesuwatuhhh" meskipun sebenarnya "kami ini mah apa atuh?"

Latihan Yoga bersama Teh Nia Dinata

Banyak pengalaman yang kami timba di Depok. Selain ngobrol intens dengan Teh Nia, kami juga ngobrol ama Mbak Pritagita Arianegara, dia berpengalaman menjadi asisten sutradara lebih dari 40 film nasional. Antara lain Ayat-Ayat Cinta, Soekarno, Tjokroaminoto dan lain-lain. Wlingiwood belajar manajemen produksi bersama Mbak Prita ini.

Lalu ada Lucky Kuswandi, sutradara yang karyanya masuk ke kancah Cannes Film Festival, Dia mengajar kelas penulisan naskah film. Om Lucky ini selalu kontroversial karena mengangkat masalah LGBT dalam film-filmnya. Dia memberikan ilmu soal membuat karakter film yang nggak lempeng-lempeng aja.

Terus ada Aghi Narottama, komposer musik film yang menggarap banyak film nasional antara lain film Berbagi Suami. Wlingiwood juga berkesempatan ngobrol dengannya. Orangnya rendah hati dan ramah. Lalu ada kelas Casting oleh Om Hagai Pakan, kelas sinematografi sama Bang Mayk Wongkar, kelas publikasi film oleh Adella Fauzi dan tak lupa re-editing yang dipandu Mbak Rininta Agustine. Mbak Rininta ini pernah nggarap post productionnya The Raid loh.

Kak Rinintaaaaa! :D

4 hari di Depok, banyak kesan dan ilmu kami dapat. Setelah ini insyaallah Wlingiwood Filmmakers akan semakin beringas dalam kreativitas. Nantikan yachhh! :)

Oiya...pas berangkat kami ketemu Daredevil
Tak lupa Wlingiwood Filmmakers berterimakasih kepada Ibu A.J. Boesra yang menjadi panitia penyelenggara lomba ini. Beliau bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan untuk mewujudkan acara yang asyik ini. Beliaulah yang mengurus kami selama di Depok, sungguh panitia terhebat yang pernah kami jumpai. Makasih Ibu Boesra :)

Bu Boesra panitia paling tangguh, keren dan ramah yang pernah kami jumpai

Hope you all be inspired yo, Cahhhh :)





Alhamdulillah, salah satu film dari Wlingiwood berjudul "SIX PACK" (produksi Prodeopop Creative Services) masuk ke dalam finalis 10 besar lomba film pendek Hari Kesehatan Nasional 2015. Pada tanggal 17 Oktober 2015 kemarin Cak Gugun, Mbeno dan Coklat berangkat ke Kinasih Resort Depok untuk mengikuti workshop film 4 hari bersama Kalyana Shira Films. Depok tuh 1 - 2 jam lah dari Jakarta. Semua akomodasi, transport kereta api eksekutif, tiket pesawat dibayarin penuh lho. Pulang pun masih disangoni sama panitia. Kerennnnn :D

Press conference lah pura-puranya

Now Playing!

Selama 4 hari Wlingiwood Filmmakers berinteraksi bersama para pemateri dan teman-teman finalis lainnya. Tak ketinggalan pula kami ngobrol ama yang punya Kalyana Shira Films yaitu Teh Nia Dinata! bagi kalian yang belum tahu siapa Nia Dinata, googling deh! Dia sutradara perempuan yang sering membuat karya kontroversial. Ternyata Teh Nia Dinata nih orangnya ramah banget euyyy.... you know...kami sering dicuekin di kampung, tapi di sini kami diperlakukan sebagai "sesuwatuhhh" meskipun sebenarnya "kami ini mah apa atuh?"

Latihan Yoga bersama Teh Nia Dinata

Banyak pengalaman yang kami timba di Depok. Selain ngobrol intens dengan Teh Nia, kami juga ngobrol ama Mbak Pritagita Arianegara, dia berpengalaman menjadi asisten sutradara lebih dari 40 film nasional. Antara lain Ayat-Ayat Cinta, Soekarno, Tjokroaminoto dan lain-lain. Wlingiwood belajar manajemen produksi bersama Mbak Prita ini.

Lalu ada Lucky Kuswandi, sutradara yang karyanya masuk ke kancah Cannes Film Festival, Dia mengajar kelas penulisan naskah film. Om Lucky ini selalu kontroversial karena mengangkat masalah LGBT dalam film-filmnya. Dia memberikan ilmu soal membuat karakter film yang nggak lempeng-lempeng aja.

Terus ada Aghi Narottama, komposer musik film yang menggarap banyak film nasional antara lain film Berbagi Suami. Wlingiwood juga berkesempatan ngobrol dengannya. Orangnya rendah hati dan ramah. Lalu ada kelas Casting oleh Om Hagai Pakan, kelas sinematografi sama Bang Mayk Wongkar, kelas publikasi film oleh Adella Fauzi dan tak lupa re-editing yang dipandu Mbak Rininta Agustine. Mbak Rininta ini pernah nggarap post productionnya The Raid loh.

Kak Rinintaaaaa! :D

4 hari di Depok, banyak kesan dan ilmu kami dapat. Setelah ini insyaallah Wlingiwood Filmmakers akan semakin beringas dalam kreativitas. Nantikan yachhh! :)

Oiya...pas berangkat kami ketemu Daredevil
Tak lupa Wlingiwood Filmmakers berterimakasih kepada Ibu A.J. Boesra yang menjadi panitia penyelenggara lomba ini. Beliau bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan untuk mewujudkan acara yang asyik ini. Beliaulah yang mengurus kami selama di Depok, sungguh panitia terhebat yang pernah kami jumpai. Makasih Ibu Boesra :)

Bu Boesra panitia paling tangguh, keren dan ramah yang pernah kami jumpai

Hope you all be inspired yo, Cahhhh :)





Baca

PEMENANG FESTIVAL FILM PELAJAR TINGKAT SMA/SMK SE-BLITAR RAYA 2015

Rabu 13 Mei kemarin di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar diadakan pemutaran kecil film-film yang dilombakan pada FESTIVAL FILM PELAJAR TINGKAT SMA/SMK SE-BLITAR RAYA 2015.

Acara dimulai pukul 8 pagi. Juri yang ditunjuk pihak Dinas Pendidikan adalah Wima Bramantya (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar), Heri Langit (Praktisi Teater) dan Antok Agusta (fotografer dan pemateri perfilman).

Wajah para pembina dan siswa peserta festival setelah mendengar pengumuman pemenang
Juri memutuskan menilai film tidak berdasarkan petunjuk pelaksanaan lomba melainkan berdasarkan nilai potensi dari karya. Tidak seperti rencana sebelumnya yang mana akan ada kategori Sutradara Terbaik, Editor Terbaik, Aktor dan Aktris Terbaik, Naskah Terbaik dan lain-lain, festival ini ternyata hanya memilih 3 Juara. Yang terpilih sebagai juara adalah:

Juara 1 SMA Negeri Srengat (berhak mewakili Kabupaten Blitar mengikuti FLS2N tingkat Jawa Timur)
Juara 2 SMK PGRI Wlingi
Juara 3 SMAN 1 Talun


Rabu 13 Mei kemarin di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar diadakan pemutaran kecil film-film yang dilombakan pada FESTIVAL FILM PELAJAR TINGKAT SMA/SMK SE-BLITAR RAYA 2015.

Acara dimulai pukul 8 pagi. Juri yang ditunjuk pihak Dinas Pendidikan adalah Wima Bramantya (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar), Heri Langit (Praktisi Teater) dan Antok Agusta (fotografer dan pemateri perfilman).

Wajah para pembina dan siswa peserta festival setelah mendengar pengumuman pemenang
Juri memutuskan menilai film tidak berdasarkan petunjuk pelaksanaan lomba melainkan berdasarkan nilai potensi dari karya. Tidak seperti rencana sebelumnya yang mana akan ada kategori Sutradara Terbaik, Editor Terbaik, Aktor dan Aktris Terbaik, Naskah Terbaik dan lain-lain, festival ini ternyata hanya memilih 3 Juara. Yang terpilih sebagai juara adalah:

Juara 1 SMA Negeri Srengat (berhak mewakili Kabupaten Blitar mengikuti FLS2N tingkat Jawa Timur)
Juara 2 SMK PGRI Wlingi
Juara 3 SMAN 1 Talun


Baca
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011.    WLINGIWOOD - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template supported super blog pedia
Proudly powered by Blogger